Misteri Awal Mula Antraks di Prambanan: Diduga dari Ternak Mati yang Dikonsumsi Warga

Wabah penyakit antraks kembali mencemaskan warga di sekitar Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sejumlah warga dilaporkan positif atau suspek antraks setelah diduga melakukan kontak dengan atau mengonsumsi daging ternak yang mati mendadak. Lalu, bagaimana awal mula penyakit mematikan ini menjangkiti warga Prambanan?

Berdasarkan penelusuran, kasus antraks di Prambanan diduga berawal dari kematian tidak wajar sejumlah hewan ternak milik warga Kalinongko Kidul, Gayamharjo. Ternak yang terdiri dari sapi dan kambing ini dilaporkan mati mendadak sejak beberapa waktu sebelum bulan Maret 2024. Ironisnya, sebagian daging ternak yang mati tersebut diduga disembelih dan dibagikan kepada warga setempat untuk dikonsumsi.

Tradisi menyembelih dan membagikan daging hewan ternak yang sakit atau mati, yang dikenal dengan istilah ‘brandu’ atau ‘bradu’, diduga menjadi salah satu faktor utama penyebaran antraks di wilayah ini. Bakteri Bacillus anthracis, penyebab antraks, dapat bertahan dalam bentuk spora di dalam tanah dan tubuh hewan yang terinfeksi dalam waktu yang lama. Ketika hewan yang terinfeksi disembelih dan dagingnya dikonsumsi, bakteri atau sporanya dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka, saluran pencernaan, atau bahkan terhirup melalui pernapasan.

Setelah mengonsumsi daging ternak yang diduga terinfeksi, beberapa warga Prambanan mulai menunjukkan gejala-gejala antraks, seperti demam, pusing, diare, dan munculnya luka atau benjolan pada kulit. Pihak Dinas Kesehatan setempat bergerak cepat melakukan penyelidikan dan pengambilan sampel darah warga yang berpotensi terpapar untuk dilakukan uji laboratorium.

Kasus di Prambanan ini menjadi pengingat akan bahaya penyakit antraks dan pentingnya kewaspadaan dalam mengonsumsi produk hewani. Masyarakat diimbau untuk tidak menyembelih atau mengonsumsi daging hewan yang sakit atau mati mendadak. Pelaporan kepada pihak berwenang jika menemukan kasus kematian ternak yang tidak wajar juga sangat penting untuk mencegah penyebaran antraks lebih luas.

Masyarakat Prambanan kini dihantui kekhawatiran akan penyebaran antraks lebih luas. Pihak berwenang terus melakukan sosialisasi mengenai bahaya antraks dan cara pencegahannya, termasuk tidak mengonsumsi daging ternak yang tidak jelas asal-usulnya atau mati mendadak.