Sejarah lahirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) tidak lepas dari dua peristiwa penting yang menandai akhir Orde Baru: Reformasi dan Kudatuli. PDI Perjuangan berakar dari PDI Orde Baru yang mengalami perpecahan internal akibat intervensi pemerintah. Perjuangan ini mencapai klimaksnya dengan peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996, sebuah titik balik yang mengubah peta politik Indonesia secara fundamental.
Peristiwa “Kuda Tuli” atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) adalah puncak konflik antara kubu Megawati Soekarnoputri yang sah dan kubu Soerjadi yang didukung Orde Baru. Penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro menjadi simbol represi politik. Peristiwa Kudatuli ini semakin menguatkan tekad Megawati untuk memperjuangkan demokrasi murni dan melawan otoritarianisme yang mendominasi saat itu.
Meskipun PDI di bawah kepemimpinan Megawati sempat terdiskreditkan secara politik pasca-Kudatuli, dukungan publik justru semakin besar. Simpati masyarakat terhadap perlawanan Megawati terhadap kekuasaan Orde Baru menjadi modal politik yang sangat berharga. Peristiwa ini, alih-alih meruntuhkan, justru menyatukan semangat perlawanan rakyat.
Ketika gelombang Reformasi dan Kudatuli melanda Indonesia pada tahun 1998, PDI yang dipimpin Megawati adalah salah satu kekuatan oposisi paling vokal. Tuntutan terhadap perubahan politik, penegakan hukum, dan penghapusan KKN menemukan jalannya. Kehadiran Megawati, dengan legacy Soekarno, memberikan aura kepemimpinan yang kuat pada gerakan Reformasi.
Pasca-jatuhnya Soeharto, PDI mengambil langkah hukum dan politik untuk memisahkan diri dari bayang-bayang Orde Baru. Pada tahun 1999, PDI secara resmi berganti nama menjadi PDI Perjuangan. Nama “Perjuangan” ditambahkan untuk menekankan perbedaan ideologis dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai demokrasi murni yang telah mereka perjuangkan sejak peristiwa Kudatuli.
Lahirnya PDI Perjuangan pada era Reformasi menandai kembalinya politik berbasis ideologi kerakyatan. Partai ini dengan cepat menjelma menjadi kekuatan politik dominan, terbukti dari perolehan suara tertinggi dalam Pemilu 1999. Hal ini menunjukkan bahwa narasi perlawanan terhadap otoritarianisme yang dimulai sejak Kudatuli berhasil memenangkan hati rakyat.
Kini, PDI Perjuangan menjadi salah satu partai politik terbesar di Indonesia, melanjutkan warisan perjuangan dari masa Reformasi dan Kudatuli. Partai ini terus menjunjung tinggi prinsip Trisakti dan ideologi Pancasila sebagai landasan perjuangan. Sejarah kelam Kudatuli kini dikenang sebagai monumen keberanian dalam menegakkan demokrasi.
Kesimpulannya, Reformasi dan Kudatuli adalah dua tonggak sejarah yang tak terpisahkan dari kelahiran PDI Perjuangan. Peristiwa Kudatuli menjadi katalis perlawanan yang matang, dan gelombang Reformasi membuka jalan bagi transformasinya. PDI Perjuangan adalah bukti nyata bahwa penderitaan politik dapat diubah menjadi kekuatan elektoral yang abadi.
